EMAK-EMAK MEMBACA REMPAH

by | Jan 18, 2026 | Artikel | 0 comments

Resensor: Roviani
Judul asli: Manifesto Rempah dan Herbal Indonesia
Penulis: Yudhie Haryono, Riskal Arief
ISBN: 978-623-174-944-4
Ukuran: 14x20cm
Tebal: 187 halaman
Harga: Rp150.000,00
Kulit muka: Soft Cover
Penerbit: Senandika Aksara
Tahun: 2025

Buku ini bukan milik saya, paling tidak begitu awalnya saya berpikir. Ia adalah hasil jerih payah suami selama berbulan-bulan. Judulnya terdengar besar, bahkan sedikit mengintimidasi. Manifesto Rempah dan Herbal Indonesia. Bagi saya, yang sehari-hari akrab dengan dapur, anak, dan ritme rumah tangga, kata “manifesto” terasa jauh. Sejarah dan kedaulatan bukan wilayah yang biasa saya masuki.

Namun rasa penasaran itu sederhana. Saya ingin memahami kegelisahan suami. Mengapa ia begitu sering bicara tentang rempah, tentang sejarah yang tak selesai, tentang bangsa yang lupa pada akarnya sendiri. Saya membuka buku ini tanpa niat besar. Hanya ingin tahu.

Di situlah kejutan pertama muncul.

Selama ini, rempah bagi saya hanyalah bumbu dapur. Ia hadir dalam bentuk yang sangat domestik: sejumput pala, beberapa butir cengkeh, jahe untuk wedang, kunyit untuk masakan. Rempah adalah pelengkap rasa, bukan pusat cerita. Buku ini memaksa saya berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana mungkin sesuatu yang kita anggap remeh pernah mengguncang dunia?

Halaman demi halaman membawa saya pada kesadaran yang tidak nyaman. Rempah bukan sekadar soal masak-memasak. Ia adalah alasan kapal-kapal datang, darah tumpah, tanah dirampas, dan sejarah bangsa ditulis oleh tangan orang lain. Yang selama ini kita anggap kecil, ternyata adalah poros besar peradaban.

Sebagai ibu rumah tangga, saya mulai melihat dapur dengan cara berbeda. Dapur bukan lagi ruang yang terpisah dari sejarah. Ia justru menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan. Setiap rempah yang saya pegang membawa jejak panjang—tentang pengetahuan leluhur, tentang tubuh yang dirawat secara alami, tentang hubungan manusia dengan alam yang dulu dijaga, bukan dieksploitasi.

Buku ini ditulis oleh suami bersama mentornya, Prof. Yudhie Haryono, dengan bahasa yang tidak menggurui. Saya seperti diajak bicara pelan-pelan, membuka satu demi satu lapisan kesadaran saya. Ada bagian-bagian yang membuat saya terdiam lama, ada pula yang membuat hati terasa perih. Mengapa narasi tentang rempah selama ini dipersempit hanya menjadi bumbu? Mengapa kisah besarnya nyaris hilang dari ingatan kolektif kita?

Sebagai istri penulis, saya membaca buku ini juga dari ruang yang sangat intim. Saya melihat bahwa kegelisahan yang tertulis di halaman-halaman itu bukan sekadar gagasan besar, melainkan keresahan yang hidup sehari-hari. Keresahan tentang bangsa yang tercerabut dari akar pengetahuannya sendiri.

Yang paling mengena bagi saya adalah kesadaran bahwa kedaulatan tidak selalu berbentuk slogan besar. Ia hadir dalam hal-hal yang paling dekat: cara kita memandang warisan leluhur, cara kita merawat pengetahuan, cara kita menghargai yang selama ini dianggap sepele.

Buku ini tidak menjadikan saya ahli sejarah, apalagi ekonom. Tetapi ia membuat saya lebih sadar. Lebih peka. Lebih menghormati apa yang selama ini saya sentuh setiap hari tanpa benar-benar saya pahami.

Manifesto Rempah dan Herbal Indonesia, bagi saya, bukan sekadar buku. Ia adalah undangan untuk mengubah cara pandang. Dari melihat rempah sebagai pelengkap rasa, menjadi memahami rempah sebagai penanda jati diri. Dari dapur kecil di rumah, saya belajar bahwa masa depan bangsa sering kali berawal dari hal-hal yang paling kita remehkan. Seorang emak-emak yang punya kesadaran baru tentang rempah.

Dan mungkin, kesadaran semacam inilah yang diam-diam kita butuhkan.(*)

Related Posts

MBG DAN PENINGKATAN PASAR REMPAH NASIONAL

MBG DAN PENINGKATAN PASAR REMPAH NASIONAL

Asy'ari Muchtar Kontributor BANREHI Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi Program Strategis Nasional pemerintahan Prabowo–Gibran telah berjalan selama satu tahun sejak diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 6 Januari 2025. Program ambisius ini dirancang...

read more

OPTIMISME BARU JALUR REMPAH NUSANTARA

Oleh: Yaya Sunaryo, S.Pd. Sebagai peserta dalam Rapat Koordinasi Lanjutan Pengembangan Potensi dan Peluang Komoditi Rempah yang diselenggarakan Kemenko Bidang Pangan di Jakarta, Jumat 9 Januari 2026, saya merasakan satu hal yang cukup jarang hadir dalam forum-forum...

read more

KEMENKO PANGAN SERIUSI HILIRISASI REMPAH

Reporter: Dr. Agus Rizal Editor: Ryo Disastro Pemerintah seriusi upaya untuk mengembalikan kejayaan rempah dan herbal Nusantara kembali menguat. Hal ini tercermin dalam Rapat Koordinasi Lanjutan Pengembangan Potensi dan Peluang Komoditi Rempah yang digelar pada Jumat,...

read more

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *