Irma Syuryani Harahap
Kontributor
Tulisan ini terinspirasi dari seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun. Setiap kali ke Jakarta, hampir tidak ada tempat singgah selain rumah Ka Andi Maraida. Di rumah itulah aku merasa selalu “terpantau” ketika berada di ibu kota. Anak beliau yang paling kecil menarik perhatianku. Di sekolah TK-nya ia dipanggil “Profesor” karena hafal peta internasional dan menunjukkan banyak tanda kejeniusan yang sulit diabaikan. Namanya Angger.
Sekitar seminggu lalu, sepulang dari salat Isya di masjid, aku tanpa sengaja mendengar ia berseru, “Mamah… anggrek bulan pulang, Mamah….” Aku hanya tersenyum. Lucu sekali. Saat itu aku tidak terpikir untuk menulis apa pun. Namun pada Senin, 16 Februari 2026, aku kembali mendengar kalimat yang sama: anggrek bulan. Di situlah pikiranku mulai bergerilya. Ada sesuatu dari cara seorang anak kecil menyebut bunga itu yang terasa seperti panggilan untuk menulis. Dan yang membuatku makin tersenyum: bocah kecil itu lelaki. Dari mulut seorang anak, aku kembali mengingat satu bunga yang sebenarnya sangat dekat dengan identitas Indonesia: anggrek bulan.

Anggrek Bulan
Anggrek Bulan atau Phalaenopsis amabilis merupakan salah satu bunga nasional Indonesia yang dikenal dengan sebutan Puspa Pesona. Bunga ini pertama kali dideskripsikan oleh ahli botani Belanda, Carl Ludwig Blume, dan merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak ditemukan di Jawa, Sumatra, hingga Maluku.
Secara alami, anggrek bulan tersebar luas di kawasan Asia Tenggara hingga Australia, termasuk Malaysia, Filipina, Papua, dan Indonesia. Cara hidupnya epifit—menempel pada batang atau cabang pohon di hutan—namun ia juga mudah dijumpai di pekarangan rumah. Tanaman ini tumbuh baik hingga ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, menandakan kemampuan adaptasinya yang cukup luas.
Keindahan anggrek bulan terletak pada kesederhanaannya. Kelopaknya putih bersih dengan sentuhan kuning di bagian tengah, membentuk siluet menyerupai sayap kupu-kupu. Bunganya dapat mekar lama, bahkan hingga dua atau tiga bulan. Daunnya hijau memanjang, sementara akar berwarna putih dan berdaging. Aromanya lembut, tidak mencolok, namun memberi kesan tenang.

Anggrek Bulan di vas bunga.
Dari sisi budidaya, Puspa Pesona memiliki peluang ekonomi yang besar. Anggrek bulan termasuk tanaman hias bernilai tinggi dan memiliki pasar yang stabil. Banyak orang menyukainya karena tampil sederhana tetapi tetap anggun dan berwibawa. Ia tidak berisik, tetapi selalu terlihat.
Perawatannya pun relatif mudah. Anggrek bulan cocok ditanam di pot dengan media pakis atau moss. Tanaman ini membutuhkan cahaya tidak langsung—terlalu banyak matahari justru merusaknya. Penyiraman cukup secukupnya, karena akar tidak menyukai kondisi terlalu basah. Kesabaran menjadi kunci, sebab anggrek adalah tanaman yang tumbuh perlahan namun memberi hadiah keindahan yang panjang.
Lebih dari sekadar tanaman hias, anggrek bulan menyimpan makna simbolis. Ia melambangkan keanggunan, kesucian, dan keindahan alami Indonesia. Bunga ini seolah mengingatkan bahwa sesuatu yang lembut tidak berarti lemah, dan sesuatu yang sederhana bisa membawa wibawa.
Mungkin itulah yang secara naluriah ditangkap oleh seorang anak kecil ketika menyebut “anggrek bulan”. Ada keindahan yang terasa pulang. Dan dari kalimat sederhana itu, aku belajar kembali bahwa inspirasi sering datang bukan dari hal besar, melainkan dari suara kecil yang kita dengar dengan hati.(*)


0 Comments