BARUS: KOMODITAS BERHARGA DARI NUSANTARA

by | Jul 5, 2026 | Artikel, Opini | 0 comments

Irma Syuryani Harahap

Ketika menatap deretan gedung pencakar langit di tengah hiruk-pikuk ibu kota, saya merenungkan perjalanan panjang peradaban manusia. Kemajuan teknologi, digitalisasi, serta sistem transportasi modern telah mengubah wajah dunia secara luar biasa. Namun, di balik semua kemajuan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang membawa pikiran saya menelusuri jejak sejarah Nusantara: dari mana sesungguhnya asal-usul kekayaan besar yang pernah dimiliki Indonesia?

Bunga Kamper. Diambil dari www.ciriciripohon.com

Jauh sebelum minyak bumi, batu bara, nikel, emas, bahkan kelapa sawit menjadi komoditas unggulan, Nusantara telah memiliki kekayaan alam yang nilainya sangat tinggi di mata dunia, yaitu pohon Barus atau kapur barus (Dryobalanops Aromatica). Pohon ini menghasilkan kristal kamper alami yang pada masanya merupakan komoditas perdagangan internasional dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Bahkan dalam berbagai catatan sejarah, kapur barus pernah dihargai melebihi emas karena kelangkaan dan manfaatnya.

Sejak berabad-abad silam, Barus di pesisir barat Sumatera telah dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dunia. Pedagang dari Mesir, Persia, India, Tiongkok, hingga Eropa datang untuk memperoleh kapur barus yang dihasilkan dari hutan-hutan Nusantara. Kota pelabuhan Barus menjadi simpul penting dalam jalur perdagangan global jauh sebelum bangsa Eropa mengenal rempah-rempah seperti cengkih, pala, dan lada.

Dalam sejarah Mesir Kuno, kapur barus diyakini digunakan sebagai salah satu bahan pengawet jenazah dalam proses mumifikasi. Temuan ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2024 melalui jurnal ScienceDirect mengidentifikasi keberadaan senyawa borneol yang berasal dari getah pohon Barus sebagai salah satu komponen yang digunakan dalam proses pengawetan mumi. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa komoditas dari Nusantara telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan global sejak ribuan tahun lalu.

Keberadaan Barus juga telah dicatat oleh Claudius Ptolemaeus pada abad ke-2 Masehi dalam Tabula Asiae XI dengan nama Barousai, yang menunjukkan bahwa wilayah ini telah dikenal sebagai pusat perdagangan penting jauh sebelum masa kolonial.

Ironisnya, kejayaan tersebut kini hampir terlupakan. Ketika bangsa Indonesia lebih banyak membicarakan sawit, tambang, dan berbagai komoditas modern lainnya, sejarah besar Barus justru jarang menjadi perhatian. Padahal, apabila nilai historis, ekonomi, budaya, dan ilmiahnya dikembangkan melalui riset yang berkelanjutan, Barus berpotensi menjadi salah satu sumber ekonomi berbasis kearifan lokal yang bernilai tinggi.

Lebih memprihatinkan lagi, pohon Barus memiliki siklus pertumbuhan yang sangat panjang. Dibutuhkan waktu sekitar lima puluh tahun sebelum pohon ini menghasilkan kristal kamper pertamanya. Di sisi lain, ekspansi perkebunan sawit, alih fungsi hutan, serta penebangan liar menyebabkan habitat pohon Barus semakin menyusut. Sejak tahun 2018, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan pohon Barus sebagai spesies yang berstatus Critically Endangered atau sangat terancam punah.

Kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, akademisi, serta masyarakat. Pelestarian pohon Barus bukan hanya berkaitan dengan konservasi lingkungan, tetapi juga menyangkut penyelamatan identitas sejarah dan warisan ekonomi bangsa. Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan penelitian mengenai manfaat farmasi, kosmetik, kesehatan, parfum, hingga industri bioteknologi yang berbasis pada sumber daya alam asli Nusantara.

Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Amanat konstitusi tersebut semestinya diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada keberlanjutan, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat.

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan tambang atau perkebunan skala besar, tetapi juga oleh kemampuan bangsa ini membaca kembali sejarahnya sendiri. Nusantara pernah menjadi pusat perdagangan dunia karena kekayaan alamnya yang unik. Barus merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia memiliki warisan ekonomi yang bernilai sangat tinggi apabila dikelola melalui riset, inovasi, dan kebijakan yang visioner.

Sudah saatnya Barus tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi dihidupkan kembali sebagai simbol kebangkitan ekonomi hijau, konservasi, dan kemandirian bangsa. Dengan memahami kejayaan masa lalu, Indonesia dapat membangun masa depan yang lebih berdaulat, berkelanjutan, dan mampu memberikan kemakmuran bagi generasi yang akan datang.(*)

Related Posts

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *