PEREMPUAN DAN CENGKEH: PENJAGA REMPAH DAN KEHIDUPAN

by | Sep 10, 2025 | Artikel | 0 comments

Irma Syuryani H
Kontributor

Tanpa perempuan, dunia sunyi—sesunyi semut berjalan tanpa suara. Mereka adalah cahaya, menghangatkan rumah dengan kehadiran, bahkan saat gelap menanti. Saya masih teringat ketika ibu angkatku pergi dua hari ke Pekanbaru. Rumah bagai berhenti bernapas; sinar mentari pagi tak mampu mengusir kesedihan yang tiba-tiba merantai ke ruang-ruang kosong. Tanpa sapaan lembutnya, rumah terasa gulita. Begitulah kekuatan perempuan: hidup hadir di setiap detik kehadirannya.

Rempah bisa diartikan sebagai simbol perempuan. Di antara aroma cengkeh Nusantara yang menguar, tersembunyi kisah perempuan—ia tak hanya menanam, tetapi juga merawat, mempertahankan budaya dan kesehatan keluarga. Cengkeh adalah simbol ketekunan dan kehangatan; perempuan adalah jantungnya.

Seperti disampaikan oleh Dr. Jane Goodall, ahli konservasi ternama dunia: “Because so many women are on the front line of the climate change fight, they’re uniquely situated to be agents of change.” Kutipan ini mengingatkan kita bahwa perempuan berada di garis depan pelestarian—tidak hanya terhadap alam, tapi juga warisan budaya seperti rempah.

Di wilayah penghasil cengkeh seperti Maluku, Sulawesi, dan Jawa, perempuan berperan penuh: memilih bibit, merawat tanaman, memanen, hingga mengolah pascapanen. Mereka juga kerap memimpin keputusan penting—waktu panen, metode pengeringan, hingga saluran pemasaran. Perempuan tidak hanya menjadi pelaksana, namun juga pemimpin dalam ekosistem rempah lokal.

Petani cengkeh perempuan

Perempuan petani cengkeh memikul dua peran: produktivitas ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Siang hari memetik cengkeh, malam hari meracik ramuan penghangat keluarga. Minyak cengkeh membantu meredakan demam dan menjaga daya tahan tubuh anak-anak. Ramuan tradisional—gabungan cengkeh, jahe, dan kayu manis—adalah warisan penyembuhan turun-temurun.

Pengetahuan tentang cengkeh diturunkan lewat cerita, bukan buku. Anak-anak belajar langsung dari perempuan desa: kapan panen, bagaimana mengeringkan, dan meracik ramuan. Kini, perempuan menciptakan inovasi di produk kesehatan—teh herbal, kosmetik alami, aromaterapi, hingga suplemen. Mereka adalah jembatan antara tradisi dan sains modern, memperkuat identitas budaya sekaligus memberdayakan ekonomi.

Cengkeh tumbuh perlahan, butuh kesabaran dan perhatian khusus—menyimbolkan perempuan: kuat, sabar, penuh kehidupan. Khasiat cengkeh untuk perempuan sangat banyak: mengurangi nyeri menstruasi, menjaga reproduksi dan tulang pasca-menopause, serta merawat kulit dan rambut secara alami.

Perempuan dan cengkeh adalah simfoni kehidupan: perlambang ketahanan dan harapan. Mereka adalah penjaga rempah, penjaga kehidupan—sebagai penjaga tradisi dan pelopor dalam kemajuan. Bagaikan cengkeh yang harum sepanjang zaman, kehadiran perempuan Nusantara menyatukan tradisi dan modernitas menjadi warisan abadi.(*)

Related Posts

MEMBACA SEJARAH, MENYUSUN ANTITESA

Yaya Sunaryo (Dosen Univ MH Thamrin, Inisiator Banrehi) “Kelemahan terbesar kita adalah bersandar pada kepasrahan. Padahal, jalan yang paling jelas menuju kesuksesan adalah selalu mencoba, setidaknya satu kali lagi.” Kutipan Thomas A. Edison itu terasa relevan ketika...

read more

PERANG MENGGUNCANG “EMAS MERAH”

Ryo Disastro Pemimpin Redaksi Di tengah ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, perhatian dunia biasanya tertuju pada minyak, selat strategis, dan stabilitas keamanan regional. Namun ada satu komoditas bernilai tinggi yang jarang dibicarakan: Saffron....

read more

PESONA ANGGREK BULAN

Irma Syuryani Harahap Kontributor Tulisan ini terinspirasi dari seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun. Setiap kali ke Jakarta, hampir tidak ada tempat singgah selain rumah Ka Andi Maraida. Di rumah itulah aku merasa selalu “terpantau” ketika berada di ibu...

read more

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *