Ryo Disastro
Banyumas – Upaya mendorong penguatan ekosistem pangan berbasis rempah dan herbal terus dilakukan oleh Badan Nasional Rempah dan Herbal Indonesia (BANREHI). Salah satunya melalui kunjungan langsung ke sektor industri pengolahan, seperti yang dilakukan pada Sabtu, 18 April 2026, ke fasilitas produksi PT Wijaya Food Indonesia di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Kunjungan yang berlangsung di kawasan Jl Banjaranyar–Pasiraman, Danasari, Banjaranyar tersebut dipimpin oleh Yudhie Haryono selaku inisiator BANREHI. Ia didampingi oleh Pemimpin Redaksi banrehi.com, Ryo Disastro. Turut hadir dalam rombongan, Ketua Umum PPJAI Heri Susanto, Puji Karyanto (pelaku herbalis dari Cilacap), dan M. Yusro Kazhim dari Nusantara Centre.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya BANREHI untuk melihat secara langsung praktik industri pangan berbasis bahan alami, sekaligus menjajaki potensi kolaborasi antara sektor rempah, herbal, dan produk turunan lainnya, termasuk susu kambing etawa.

PT Wijaya Food Indonesia sendiri merupakan perusahaan yang relatif muda, didirikan pada tahun 2021 dengan misi menghadirkan makanan dan minuman berkualitas tinggi yang sehat sekaligus lezat bagi masyarakat. Dalam waktu singkat, perusahaan ini menunjukkan komitmennya dalam inovasi produk dan pelayanan, dengan memanfaatkan bahan baku berkualitas serta teknologi pengolahan modern untuk menjamin keamanan dan kesegaran produk.
Salah satu produk unggulan yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah Etawaku Platinum, susu kambing etawa yang diposisikan sebagai produk premium. Produk ini dikembangkan dengan standar kualitas tinggi, sekaligus menjawab tren meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap minuman kesehatan berbasis alami.

Dalam kesempatan tersebut, Yudhie Haryono menegaskan bahwa integrasi antara sektor peternakan, pangan, dan herbal merupakan kunci penting dalam membangun kedaulatan pangan nasional. Menurutnya, susu etawa tidak hanya memiliki nilai gizi tinggi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam ekosistem kesehatan berbasis herbal, termasuk pemenuhan gizi anak-anak Indonesia melalui program Makan Bergizi Gratis.
“Ke depan, kita tidak bisa melihat sektor pangan secara terpisah. Rempah, herbal, dan produk seperti susu etawa harus diposisikan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Susu etawa layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia dan kita akan dorong untuk masuk ke program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Heri Susanto yang melihat bahwa produk-produk seperti susu etawa memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih luas, baik di pasar domestik maupun internasional, terutama jika didukung dengan inovasi dan standardisasi yang kuat.

Selama kunjungan, rombongan BANREHI berkesempatan meninjau langsung proses produksi di pabrik, mulai dari pengolahan bahan baku hingga tahap akhir pengemasan. Diskusi antara pihak perusahaan dan rombongan juga berlangsung hangat, membahas peluang pengembangan produk berbasis kolaborasi antara herbal dan pangan fungsional.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara pelaku industri dan gerakan rempah nasional. Dengan dukungan berbagai pihak, sektor pangan berbasis herbal dan produk turunannya diyakini mampu menjadi salah satu pilar penting dalam membangun ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Melalui agenda-agenda seperti ini, BANREHI terus mendorong agar potensi lokal tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.(*)
0 Comments