ANTOLOGI PANTUN BANREHI

by | Sep 27, 2025 | Artikel | 0 comments

Ngopi pagi di warung sederhana,
Roti goreng jadi temannya.
Hanya satu jalan untuk bangsa,
Kembali tegak: Ekonomi Pancasila.

Ngopi pagi di warung desa,
aroma rempah harum ke mana-mana.
Tim Banrehi satukan asa,
bawa Pancasila jaga ekonomi bangsa.

Kalau ke kramat jati,
jangan lupa mampir ke kelapa dua.
Tim Banrehi berasaskan Pancasila.
– Dr. Agus Rizal

Sarapan pagi semangkok laksa,
sambil lihat keluar jendela.
Tegakkan kembali kedaulatan bangsa,
lewat rempah dan ekonomi Pancasila.

Buah nangka buah mengkudu,
semua ada di Surabaya.
Tempuh jalan panjang berliku,
untuk jadi negeri yang jaya.

Bergandeng tangan kita bekerja,
ringankan beban bersama bersahaja.
Biar usia sudah berangsur senja,
jiwa bebas laksana remaja.

Buku rusak dimakan rayap,
tinggal kenangan rasa di hati.
Kita semua perlu bersiap,
untuk kemajuan yang lama dinanti.
– Kirdi Putra

Naik perahu ke Ternate,
Singgah sebentar membeli pala.
Rempah Nusantara harum semerbak,
Bangun ekonomi rakyat bersama-sama.
– Dedi Setiadi

Biji duku ditanam di tanah subur,
pohonnya tumbuh tinggi menjulang.
Harapan muncul takkan luntur,
menantikan BANREHI berwujud.
– Asy’ari Muchtar

Beli jahe Merah di Kramat jati,
rempah dan herbal tidak boleh mati,
tapi harus Berjaya di Bumi Surgawi.
– Yaya Sunaryo

Related Posts

MEMBACA SEJARAH, MENYUSUN ANTITESA

Yaya Sunaryo (Dosen Univ MH Thamrin, Inisiator Banrehi) “Kelemahan terbesar kita adalah bersandar pada kepasrahan. Padahal, jalan yang paling jelas menuju kesuksesan adalah selalu mencoba, setidaknya satu kali lagi.” Kutipan Thomas A. Edison itu terasa relevan ketika...

read more

PERANG MENGGUNCANG “EMAS MERAH”

Ryo Disastro Pemimpin Redaksi Di tengah ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, perhatian dunia biasanya tertuju pada minyak, selat strategis, dan stabilitas keamanan regional. Namun ada satu komoditas bernilai tinggi yang jarang dibicarakan: Saffron....

read more

PESONA ANGGREK BULAN

Irma Syuryani Harahap Kontributor Tulisan ini terinspirasi dari seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun. Setiap kali ke Jakarta, hampir tidak ada tempat singgah selain rumah Ka Andi Maraida. Di rumah itulah aku merasa selalu “terpantau” ketika berada di ibu...

read more

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *