
Dedi Setiadi
Indonesia sedang berada dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Pada tahun tersebut, anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah, belajar menggunakan internet, bermain dengan gawai, dan tumbuh bersama perkembangan teknologi akan menjadi generasi produktif yang ikut menentukan arah bangsa. Karena itu, berbicara tentang Indonesia Emas 2045 sebenarnya bukan hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kecanggihan teknologi, tetapi jauh lebih penting adalah berbicara tentang manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan untuk Indonesia di masa depan.
Bappenas menempatkan pembangunan sumber daya manusia yang sejahtera, adaptif, berakhlak mulia, berbudaya maju, unggul, dan berdaya saing sebagai bagian penting dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Artinya, kualitas manusia tidak cukup hanya dilihat dari seberapa tinggi pendidikannya atau seberapa terampil ia menggunakan teknologi. Karakter, kemampuan beradaptasi, penguasaan ilmu pengetahuan, dan rasa tanggung jawab juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Menurut saya, setidaknya ada tiga bekal yang perlu tumbuh bersama dalam diri generasi Indonesia masa depan, yaitu adab, teknologi, dan cinta tanah air. Adab menjadi fondasi, teknologi menjadi kemampuan, sedangkan cinta tanah air menjadi arah. Ketiganya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri karena generasi yang kita butuhkan bukan hanya generasi yang cerdas dan menguasai teknologi, tetapi juga generasi yang memiliki karakter dan memahami untuk apa kemampuan tersebut digunakan.
Adab sebagai Fondasi Sebelum Kecerdasan
Anak yang pintar belum tentu menjadi manusia yang baik. Ia bisa menguasai matematika, bahasa asing, teknologi, bahkan kecerdasan buatan, tetapi jika tidak mampu menghormati orang lain, tidak memiliki empati, tidak mampu mengendalikan diri, dan tidak memahami batas antara benar dan salah, kecerdasannya bisa kehilangan arah. Pengetahuan yang luas membutuhkan kompas moral agar tidak berubah menjadi kemampuan yang digunakan untuk merugikan orang lain.
Thomas Lickona, salah satu tokoh penting dalam pendidikan karakter, menjelaskan bahwa karakter yang baik tidak berhenti pada kemampuan mengetahui mana yang baik. Karakter juga berkaitan dengan kemauan mencintai kebaikan dan membiasakan diri melakukan kebaikan. Dengan kata lain, pendidikan karakter bukan sekadar membuat anak tahu bahwa berbohong itu salah, menghormati orang lain itu baik, atau menolong sesama itu penting, melainkan bagaimana nilai-nilai tersebut menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks Indonesia, hal tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang dikembangkan melalui Profil Pelajar Pancasila, seperti beriman dan berakhlak mulia, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, kreatif, serta menghargai keberagaman. Karena itu, generasi masa depan tidak cukup hanya menjadi generasi yang pintar. Mereka perlu tahu bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua, menghargai teman yang berbeda, memahami kapan harus menggunakan kebebasan dan kapan harus menahan diri, serta menyadari bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh diperoleh dengan merugikan orang lain.
Yang paling penting, mereka harus mampu tetap melakukan hal yang benar meskipun tidak ada orang yang melihat. Itulah adab. Adab menjadi kompas ketika pengetahuan semakin luas dan pilihan hidup semakin banyak. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin penting pula kemampuan untuk mengendalikan dirinya agar pengetahuan tersebut digunakan untuk kebaikan.
Teknologi sebagai Alat untuk Berkarya
Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka mengenal video, media sosial, mesin pencari, aplikasi pembelajaran, kecerdasan buatan, dan berbagai perangkat digital sejak usia yang sangat muda. Teknologi bukan lagi sesuatu yang berada di luar kehidupan mereka, melainkan sudah menjadi bagian dari keseharian.
Karena itu, melarang anak mengenal teknologi bukanlah jalan keluar. Yang lebih penting adalah membimbing mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, aman, produktif, dan bertanggung jawab. UNESCO melalui Global Education Monitoring Report 2023 menekankan bahwa teknologi dalam pendidikan seharusnya digunakan untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada manusia, memperluas akses pendidikan, dan mengembangkan keterampilan tanpa menggantikan hubungan manusia dalam proses pendidikan.
Pesannya sederhana, yaitu teknologi harus menjadi alat, bukan tuan. Anak perlu belajar menggunakan teknologi untuk mencari pengetahuan, bukan hanya mencari hiburan; menggunakan AI untuk membantu berpikir, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin; serta menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dan berkarya, bukan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain. Internet harus membuka kesempatan, bukan membuat anak kehilangan waktu tanpa batas.
Di sinilah adab dan teknologi bertemu. Anak yang memiliki kemampuan digital tetapi tidak memiliki etika dapat menjadi pengguna teknologi yang merugikan, sementara anak yang memiliki karakter baik tetapi tidak memiliki kecakapan digital juga akan kesulitan mengikuti perubahan dunia. Karena itu, literasi digital harus berjalan bersama literasi moral.
Indonesia juga tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi yang dibuat oleh negara lain. Kita perlu memperkuat kemampuan untuk menciptakan, mengembangkan, dan mengelola teknologi sendiri. Salah satu hal yang semakin penting adalah kedaulatan data karena data kini menjadi bagian penting dalam pelayanan publik, pengambilan keputusan, bisnis, penelitian, pendidikan, dan pembangunan.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat infrastruktur digital, pusat data dalam negeri, kecerdasan artifisial yang sesuai dengan kebutuhan nasional, keamanan siber, serta perlindungan data pribadi. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi sebagai salah satu dasar hukum dalam memberikan perlindungan terhadap data masyarakat. Namun, kedaulatan digital bukan berarti Indonesia harus menutup diri dari teknologi luar negeri, melainkan memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara aman, produktif, kritis, dan sesuai dengan kepentingan nasional.
Teknologi Harus Menjawab Persoalan Bangsa
Teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengikuti perkembangan zaman. Teknologi harus membantu menyelesaikan persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, energi, pendidikan, kesehatan, industri, lingkungan, hingga keamanan data. Dengan begitu, kemajuan teknologi tidak berhenti sebagai simbol modernisasi, tetapi benar-benar menghasilkan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Dalam bidang energi dan lingkungan, Indonesia perlu mendorong pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan. Pengembangan kendaraan listrik, industri baterai, energi terbarukan, smart grid, efisiensi energi, dan berbagai teknologi untuk mengurangi emisi menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju ekonomi yang lebih hijau. Indonesia memiliki sumber daya nikel yang besar, tetapi hilirisasi akan memberikan nilai tambah lebih besar apabila tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, melainkan dilanjutkan dengan pengembangan industri dan teknologi di dalam negeri.
Namun, hilirisasi juga perlu dilakukan dengan memperhatikan lingkungan. Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan yang akhirnya diwariskan kepada generasi berikutnya. Pembangunan harus mampu memastikan bahwa manfaat ekonomi yang kita nikmati hari ini tidak menjadi beban ekologis bagi generasi yang akan datang.
Hal yang sama berlaku pada bidang pertanian. Ketahanan pangan merupakan persoalan penting bagi Indonesia karena jumlah penduduk yang besar membuat kebutuhan pangan terus meningkat, sementara perubahan iklim dapat memengaruhi produksi pertanian. Teknologi dapat membantu petani mengambil keputusan dengan lebih tepat melalui smart farming yang memanfaatkan sensor tanah, Internet of Things, drone, citra satelit, dan data cuaca untuk mengetahui kondisi lahan dan tanaman.
Teknologi tersebut dapat membantu menentukan kebutuhan air, pupuk, dan waktu tanam dengan lebih tepat. Namun, teknologi pertanian tidak boleh berhenti pada penggunaan alat modern karena tujuan akhirnya harus kembali kepada petani. Teknologi harus membantu meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya, meningkatkan pendapatan, dan menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Pendidikan dan Talenta Digital
Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, semuanya tetap membutuhkan manusia yang mampu menggunakannya. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu kunci utama menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan memahami etika.
Pemerataan akses pendidikan digital juga menjadi tantangan. Indonesia adalah negara yang luas dengan kondisi geografis yang sangat beragam sehingga anak-anak di wilayah 3T harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses internet dan sumber belajar digital. Pembangunan konektivitas seperti SATRIA-1 menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas akses tersebut, terutama untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan terestrial.
Namun, membangun jaringan internet saja tidak cukup. Kita juga harus membangun kemampuan manusianya. Literasi digital, berpikir komputasional, analisis data, pemanfaatan AI, keamanan digital, kreativitas, dan etika digital perlu diperkenalkan sesuai dengan usia dan tingkat pendidikan peserta didik.
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses tersebut. Guru tidak cukup hanya mampu menggunakan aplikasi digital, tetapi juga perlu memahami kapan teknologi digunakan, untuk tujuan apa teknologi digunakan, dan bagaimana teknologi benar-benar membantu peserta didik belajar. Jangan sampai teknologi justru membuat anak semakin pasif karena anak tetap harus belajar bertanya, berdiskusi, membaca, berpikir, mencoba, membuat kesalahan, dan menemukan solusi.
Selain pendidikan formal, peningkatan kemampuan tenaga kerja juga penting karena dunia kerja terus berubah. Jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan hari ini belum tentu sama dengan sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Karena itu, program reskilling dan upskilling perlu terus diperkuat agar masyarakat mampu mengikuti perubahan teknologi.
Cinta Tanah Air agar Generasi Digital Tidak Kehilangan Akar
Ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan, yaitu cinta tanah air. Generasi Indonesia harus mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Mereka boleh belajar bahasa asing, menggunakan teknologi dari berbagai negara, bekerja di perusahaan internasional, dan memiliki wawasan dunia, tetapi tetap harus tahu dari mana mereka berasal dan untuk siapa ilmu yang mereka miliki seharusnya digunakan.
Cinta tanah air bukan berarti menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya, cinta tanah air berarti memiliki identitas yang cukup kuat sehingga kita dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain tanpa merasa harus kehilangan jati diri. Cinta tanah air juga tidak harus selalu ditunjukkan melalui kata-kata besar, karena seorang anak dapat menunjukkannya dengan belajar sungguh-sungguh, menjaga lingkungan, menghargai budaya daerah, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, tidak menyebarkan berita bohong, menghormati perbedaan, dan menjaga persatuan.
Suatu hari nanti, kecintaan itu juga harus diwujudkan melalui ilmu dan pekerjaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena pada akhirnya, cinta tanah air bukan hanya soal kata-kata. Cinta tanah air adalah kontribusi.
Tiga Pilar yang Tidak Boleh Dipisahkan
Adab, teknologi, dan cinta tanah air bukan tiga hal yang berdiri sendiri. Ketiganya harus saling menguatkan karena adab memberikan arah, teknologi memberikan kemampuan, dan cinta tanah air memberikan tujuan. Anak yang beradab akan memahami bahwa teknologi harus digunakan dengan tanggung jawab, sementara anak yang cakap teknologi memiliki kemampuan untuk berkarya dan menghadapi perubahan zaman.
Anak yang mencintai tanah air akan memahami bahwa ilmu dan kemampuan yang dimilikinya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Inilah generasi yang kita butuhkan. Bukan sekadar generasi yang mampu menggunakan teknologi, tetapi generasi yang mampu mengendalikan dirinya ketika menggunakan teknologi; bukan sekadar generasi yang mampu bersaing, tetapi generasi yang mampu bersaing tanpa kehilangan kejujuran.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi memahami tanggung jawab sosial. Kita membutuhkan generasi yang tidak sekadar mengenal dunia, tetapi tetap mengenal akar bangsanya. Dengan bekal tersebut, kemajuan tidak akan membuat manusia kehilangan arah, dan keterbukaan terhadap dunia tidak akan membuat bangsa kehilangan identitas.
Membangun Ekosistem untuk Indonesia Emas
Untuk mewujudkan generasi tersebut, pembangunan teknologi dan manusia tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan, regulasi, dan infrastruktur, perguruan tinggi menghasilkan penelitian dan inovasi, dunia industri membantu proses pengembangan dan hilirisasi, sekolah dan guru menyiapkan generasi melalui pendidikan, sementara keluarga membangun kebiasaan dan karakter sejak dini.
Riset juga perlu diarahkan pada persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Penelitian tentang teknologi pertanian untuk petani kecil, pendidikan digital untuk wilayah 3T, energi bersih untuk daerah kepulauan, keamanan data, kesehatan, dan produktivitas industri harus terus dikembangkan. Dengan demikian, hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau publikasi, tetapi dapat menjadi solusi yang benar-benar digunakan masyarakat.
Regulasi pun perlu mengikuti perkembangan teknologi. Peraturan mengenai data pribadi, AI, keamanan siber, dan teknologi baru harus mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat tanpa mematikan ruang inovasi. Pada akhirnya, kita membutuhkan ekosistem yang mempertemukan regulasi, riset, inovasi, industri, pendidikan, dan masyarakat dalam satu gerak pembangunan.
Indonesia Emas adalah Kemajuan Manusianya
Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya karena Indonesia memiliki teknologi yang semakin maju. Tidak pula hanya karena ekonomi tumbuh atau infrastruktur semakin banyak. Indonesia Emas akan sangat ditentukan oleh manusia yang mengisi masa depan bangsa, yaitu manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga beradab, cakap teknologi, mampu beradaptasi, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa.
Karena itu, adab harus menjadi fondasi, teknologi harus menjadi alat, dan cinta tanah air harus menjadi arah. Kedaulatan data harus berjalan bersama keamanan siber, hilirisasi sumber daya alam harus berjalan bersama teknologi yang ramah lingkungan, digitalisasi pertanian harus berjalan bersama peningkatan kesejahteraan petani, dan transformasi pendidikan harus berjalan bersama peningkatan kualitas manusia. Kemajuan teknologi juga harus berjalan bersama penguatan karakter.
Perlu disadari bahwa teknologi hanyalah alat. Arah pembangunan tetap ditentukan oleh manusia yang menguasai pengetahuan, mampu beradaptasi, memiliki nilai, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Jika pemerintah, akademisi, industri, sekolah, keluarga, dan masyarakat bergerak bersama, Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar teknologi yang besar, tetapi dapat tumbuh menjadi bangsa yang mampu menguasai teknologi, menghasilkan inovasi, memiliki sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter, serta tetap berpijak pada jati dirinya.
Di situlah makna sesungguhnya dari Indonesia Emas 2045. Bukan sekadar bangsa yang maju teknologinya, tetapi bangsa yang maju manusianya.(*)
0 Comments