ENGKU PUTERI DAN JEJAK POLITIK PEREMPUAN MELAYU

by | Jun 22, 2026 | Artikel, Opini | 0 comments

Irma Syuryani Harahap
Kontributor

Sebelum berangkat ke Bogor sore itu, aku baru saja mengantar seorang santri bernama Salsabila Sifa Rahmadani yang akan melanjutkan sekolah di Batam, lebih dekat dengan mamanya. Dari Bandara Soekarno-Hatta, perjalanan berlanjut dengan KRL menuju Bogor. Di tengah perjalanan, entah mengapa pikiranku melayang jauh ke Kepulauan Riau, lalu tergerak untuk menulis tentang seorang perempuan luar biasa dari Kesultanan Johor-Riau-Lingga.

Hey, kamu yang di sana, aku menunggumu untuk melamarku di singgasana napas kehidupan ini. Genggamlah tanganku, jangan kau lepaskan lagi. Sematkan cincin pernikahan di jari manisku, lalu dengarkan kisah indah ini. Sebuah kisah yang akan membuatmu takjub, sebab sejarah pernah mencatat mahar pernikahan yang mungkin tak tertandingi hingga hari ini.

Namanya Engku Puteri Raja Hamidah.

Makam Engku Puteri Raja Hamidah

Tanpanya, mungkin kita tidak mengenal Pulau Penyengat seperti sekarang. Tanpanya, mungkin tidak akan lahir lingkungan budaya yang melahirkan Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas-nya. Dan tanpanya pula, pusat perkembangan bahasa Melayu yang kelak menjadi cikal bakal bahasa Indonesia mungkin tidak akan berkembang seperti yang kita kenal hari ini.

Engku Puteri Raja Hamidah (1774–1844) adalah putri sulung Raja Haji Fisabilillah dan Ratu Emas. Ia menjadi permaisuri Sultan Mahmud Syah III dan tercatat sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Johor-Riau-Lingga.

Setelah Sultan Mahmud Syah III wafat, kerajaan menghadapi krisis suksesi yang melibatkan campur tangan Belanda dan Inggris. Pada masa genting itulah Engku Puteri Hamidah memegang regalia kerajaan—mahkota, cap kerajaan, dan berbagai alat kebesaran lainnya—yang menjadi simbol legitimasi seorang sultan. Dalam adat Melayu, tanpa regalia tersebut, pengangkatan seorang sultan dianggap tidak sah.

Dengan keteguhan yang luar biasa, Engku Puteri menolak menyerahkan regalia kepada pihak yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan adat. Sikap itu bukan sekadar mempertahankan simbol kerajaan, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap intervensi asing dan upaya menjaga marwah Kesultanan Melayu.

Kini regalia tersebut tersimpan di Museum Nasional Indonesia, sementara Engku Puteri sendiri dimakamkan di kompleks makam raja-raja di Pulau Penyengat.

Dalam catatan sejarah, Engku Puteri Hamidah juga dikenal sebagai perempuan tangguh yang mengikuti jejak ayah dan suaminya. Ia tidak hanya menjadi penjaga adat, tetapi juga sosok yang memiliki keberanian seorang pejuang. Namanya dikenang sebagai simbol keteguhan, kebijaksanaan, dan kehormatan dalam sejarah Kepulauan Riau.

Bukankah menarik kisah yang kuceritakan padamu ini?

Konon, Pulau Penyengat sendiri merupakan mahar yang diberikan kepada Engku Puteri Raja Hamidah. Sebuah pulau yang kini menjadi tujuan wisata sejarah dan religi, tempat orang-orang datang untuk mengenang jejak peradaban Melayu. Barangkali belum pernah ada lagi dalam sejarah Nusantara seorang perempuan yang dimaharkan dengan sebuah pulau, lalu dari pulau itu lahir warisan peradaban yang begitu besar.

Dari Engku Puteri Raja Hamidah, kita mewarisi satu pelajaran penting: bahwa sejarah tidak pernah membedakan keberanian berdasarkan jenis kelamin. Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki ruang untuk menentukan arah zaman.

Ia mengajarkan kepada kita bahwa keteguhan adalah martabat, keberanian adalah kehormatan, dan cinta kepada tanah air dapat menjelma menjadi warisan yang dikenang sepanjang masa.

Dan mungkin, itulah DNA para pejuang yang diwariskan kepada anak-anak negeri hingga hari ini. Sebab sejarah selalu mengingat mereka yang teguh menjaga kehormatan, meski harus berdiri sendirian menghadapi arus zaman.(*)

Related Posts

YANG TAK TERGANTIKAN OLEH AI

Oleh: Yaya Sunaryo Kontributor "Tujuan hidup bukanlah sanjungan. Bukan pula harta yang bertaburan. Melainkan jiwa yang bersih dan tenang, yang ilmu dan amalnya selalu seimbang." Begitulah Buya Hamka pernah mengingatkan. Sebuah nasihat sederhana, tetapi terasa semakin...

read more

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *