BANREHI.com — Enam tanaman herbal yang sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional kini menjadi perhatian penelitian medis karena potensi senyawa aktifnya dalam membantu meredakan nyeri sendi. Beberapa di antaranya, seperti kunyit, jahe, dan cabai, sangat dikenal masyarakat Indonesia. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat tanaman herbal untuk artritis tidak selalu sama dan sebagian masih memerlukan pembuktian klinis lebih lanjut.
Artritis merupakan istilah umum untuk sejumlah kondisi yang menyebabkan gangguan pada persendian. Dua di antaranya adalah osteoartritis, yang berkaitan dengan perubahan dan kerusakan jaringan sendi, serta artritis reumatoid, yaitu penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan sendi. Perbedaan mekanisme penyakit ini penting karena hasil penelitian herbal pada osteoartritis tidak otomatis berlaku untuk artritis reumatoid.
National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), lembaga di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat, menyatakan bahwa sejumlah bahan alami mungkin memberikan manfaat terbatas untuk keluhan muskuloskeletal. Namun, bukti ilmiah untuk sebagian besar suplemen herbal masih belum cukup kuat. Penggunaan herbal karena itu perlu dipandang sebagai pendekatan pendamping, bukan pengganti pengobatan medis.
Kunyit dan Jahe, Rempah Indonesia yang Diteliti untuk Nyeri Sendi

Turmeric atau Kunyit.
1. Kunyit (Curcuma longa)
Kunyit merupakan tanaman rimpang yang mengandung kurkuminoid, termasuk kurkumin. Senyawa ini banyak diteliti karena aktivitas biologisnya yang berkaitan dengan mekanisme peradangan. Bukti laboratorium menunjukkan potensi tersebut, sedangkan penelitian klinis berusaha mengetahui apakah ekstraknya dapat membantu meredakan gejala osteoartritis.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis jaringan yang diterbitkan dalam Complementary Therapies in Medicine edisi Maret 2026 menganalisis 20 uji klinis acak dengan total 1.633 peserta. Penelitian tersebut menilai ekstrak kunyit, Boswellia serrata, serta kombinasi keduanya pada pasien osteoartritis lutut. Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi kunyit tertentu dapat membantu mengurangi nyeri, tetapi tidak seluruh bentuk sediaan menunjukkan manfaat yang sama.
Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut terhadap kombinasi kedua tanaman. Karena formulasi ekstrak yang diteliti berbeda dari kunyit biasa dalam makanan atau jamu rumahan, hasil uji klinis tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyatakan semua olahan kunyit memiliki khasiat setara.

Zingiber officinale atau Jahe
2. Jahe (Zingiber officinale)
Jahe mengandung sejumlah senyawa aktif, antara lain gingerol dan shogaol, yang telah diteliti terkait aktivitas antiinflamasi. Dalam tradisi Indonesia, jahe sering digunakan sebagai minuman penghangat tubuh maupun bahan ramuan untuk keluhan pegal. Penelitian klinis juga telah mengevaluasi ekstrak jahe terhadap nyeri dan fungsi persendian.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Osteoarthritis and Cartilage pada 2015 menggabungkan lima uji klinis dengan 593 peserta. Hasil penelitian menunjukkan penurunan nyeri dan gangguan fungsi dalam derajat relatif kecil pada kelompok yang menerima jahe dibandingkan plasebo. Namun, peserta pengguna jahe lebih sering menghentikan pengobatan karena efek yang tidak diinginkan.
Temuan tersebut belum menjadi kepastian bahwa jahe efektif untuk semua penderita artritis. Tinjauan penelitian berikutnya menemukan variasi hasil antaruji klinis dan menilai bukti yang tersedia masih terbatas. Artinya, penggunaan jahe dalam tradisi masyarakat perlu dibedakan dari pemberian ekstrak terstandardisasi dalam penelitian medis.
Cabai dan Kemenyan India Menawarkan Pendekatan Berbeda

Cabe Merah atau Capsicum
3. Cabai (Capsicum)
Cabai memiliki senyawa bernama kapsaisin yang menghasilkan sensasi pedas dan panas. Berbeda dari kebanyakan herbal yang diteliti sebagai ekstrak oral, kapsaisin juga digunakan dalam produk oles untuk membantu mengurangi sensasi nyeri. Dalam konteks ini, yang diteliti adalah formulasi topikal dengan konsentrasi tertentu, bukan konsumsi cabai sebagai makanan.
Meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 meninjau delapan uji klinis acak tersamar ganda yang melibatkan 498 pasien osteoartritis. Hasil gabungan menunjukkan bahwa kapsaisin topikal berpotensi mengurangi intensitas nyeri dibandingkan plasebo. Namun, penggunaan produk tersebut juga meningkatkan risiko sensasi terbakar pada bagian kulit yang diolesi.

Boswellia Serrata atau Kemenyan India
4. Kemenyan India (Boswellia serrata)
Kemenyan India merupakan tanaman penghasil resin yang digunakan dalam tradisi pengobatan Ayurveda. Resin ini mengandung kelompok senyawa asam boswelat yang menjadi objek berbagai penelitian farmakologi. Sejumlah uji klinis menilai apakah ekstraknya dapat membantu mengurangi nyeri, kekakuan, dan gangguan fungsi pada pasien osteoartritis lutut.
Meta-analisis jaringan tahun 2026 yang juga meneliti kunyit menemukan bahwa formulasi ekstrak Boswellia serrata tertentu memberikan perbaikan pada sejumlah ukuran nyeri, kekakuan, dan fungsi lutut. Meski hasilnya menjanjikan, penelitian tersebut belum cukup untuk menetapkan seluruh produk berbahan Boswellia sebagai pengobatan yang terbukti efektif.
Bagi Indonesia, perbedaan spesies perlu diperhatikan. Kemenyan Sumatra yang banyak dikenal dalam perdagangan nasional umumnya berasal dari genus Styrax, sedangkan kemenyan India berasal dari Boswellia. Keduanya menghasilkan resin, tetapi memiliki identitas botani dan komposisi kimia berbeda. Karena itu, bukti klinis terhadap Boswellia serrata tidak dapat langsung diterapkan pada kemenyan Sumatra.
Dua Tanaman Lain dengan Bukti yang Masih Terbatas

Salix
5. Kulit Pohon Willow (Salix)
Kulit pohon willow telah lama digunakan dalam berbagai tradisi pengobatan untuk keluhan nyeri. Salah satu senyawa yang menjadi perhatian adalah salisin, yang berkaitan dengan sejarah pengembangan obat pereda nyeri. Penelitian pada manusia telah dilakukan, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten.
Sebuah uji klinis tahun 2001 terhadap 78 pasien osteoartritis menemukan manfaat pereda nyeri dalam tingkat sedang. Namun, uji klinis lain pada 2004 tidak menemukan manfaat yang bermakna dibandingkan plasebo pada pasien osteoartritis maupun artritis reumatoid. Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa efektivitas ekstrak willow belum dapat dianggap pasti.

Cakar Iblis (Devil’s Claw) atau Harpagophytum procumbens
6. Devil’s Claw (Harpagophytum procumbens)
Tanaman asal Afrika bagian selatan ini dikenal dalam pengobatan tradisional untuk keluhan sendi dan punggung. Akarnya mengandung senyawa iridoid glikosida, termasuk harpagosida, yang menjadi perhatian penelitian terkait aktivitas antiinflamasi. Sejumlah penelitian pada manusia telah mengevaluasi ekstraknya untuk keluhan osteoartritis.
NCCIH mencatat adanya bukti yang menunjukkan kemungkinan manfaat devil’s claw untuk beberapa gejala osteoartritis. Namun, penilaian efektivitasnya masih berbeda antarkajian, terutama karena mutu studi dan variasi produk yang digunakan. Tanaman ini tidak dapat dinyatakan sebagai terapi yang secara pasti mengobati artritis.
Indonesia Punya Bahan Baku, tetapi Standardisasi Menjadi Kunci
Dari keenam tanaman tersebut, kunyit, jahe, dan cabai memiliki hubungan paling langsung dengan sumber daya pertanian serta tradisi konsumsi masyarakat Indonesia. Ketiganya telah dikenal luas sebagai bumbu, bahan minuman, maupun komponen ramuan tradisional. Namun, ketersediaan tanaman tidak otomatis menunjukkan bahwa produk herbal berbahan tanaman tersebut telah memenuhi standar efektivitas klinis.
Indonesia memiliki sistem penggolongan obat bahan alam yang membedakan jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Jamu bertumpu pada penggunaan empiris, sedangkan OHT memerlukan pembuktian praklinik dan standardisasi. Fitofarmaka memerlukan pembuktian praklinik serta klinik, sehingga klaim manfaatnya memiliki tingkat pembuktian yang berbeda.
Pengaturan tersebut relevan untuk pengembangan industri herbal nasional. Penelitian ekstrak kunyit atau jahe pada pasien osteoartritis tidak dapat digunakan begitu saja untuk membenarkan klaim seluruh produk yang mengandung kedua bahan tersebut. Perbedaan konsentrasi, proses ekstraksi, formulasi, dosis, dan metode pengujian dapat memengaruhi hasil penelitian.
Perhatian terhadap keamanan produk juga tidak kalah penting. Dalam siaran pers September 2026, BPOM melaporkan temuan 31 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan ilegal dari pengawasan Mei–Juni 2026. Sebanyak 30 produk diketahui mengandung bahan kimia obat yang tidak semestinya terdapat dalam produk tersebut. Temuan ini menjadi peringatan bagi konsumen agar tidak mudah percaya terhadap klaim produk herbal yang menjanjikan penghilangan nyeri secara instan.
Peluang Riset Herbal Indonesia
Penelitian terhadap enam tanaman tersebut membuka peluang bagi pengembangan herbal berbasis bukti ilmiah, terutama untuk komoditas yang telah dibudidayakan dan dimanfaatkan masyarakat Indonesia. Kunyit, jahe, dan cabai dapat menjadi objek penelitian lanjutan yang menghubungkan kandungan kimia dengan keamanan, standardisasi ekstrak, serta manfaat klinis yang terukur. Pengembangan ini juga memerlukan kolaborasi antara petani, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri pengolahan.
Meski demikian, hasil-hasil penelitian herbal perlu ditempatkan sesuai tingkat pembuktiannya. Aktivitas antiinflamasi pada pengujian laboratorium atau hewan belum tentu menghasilkan manfaat yang sama pada manusia. Bahkan ketika uji klinis menemukan penurunan nyeri, hasil tersebut belum berarti tanaman bersangkutan mampu memperbaiki kerusakan sendi atau menyembuhkan penyakit artritis.
Bagi Indonesia, tantangan terbesarnya bukan sekadar memperkenalkan kembali kekayaan tanaman obat, melainkan memastikan manfaatnya dapat dibuktikan secara ilmiah dan diterjemahkan menjadi produk yang aman serta bermutu. Keenam tanaman tersebut menunjukkan bahwa pengobatan tradisional masih menyediakan ruang penelitian yang luas. Namun, masa depan industri herbal akan lebih ditentukan oleh kualitas pembuktian dibandingkan banyaknya klaim khasiat yang dipasarkan.(*)
Sumber:
https://doi.org/10.1016/j.ctim.2025.103256
https://doi.org/10.1016/j.joca.2014.09.024
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38761115
https://doi.org/10.1002/ptr.981
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15517622
https://doi.org/10.1089/acm.2006.12.981
https://www.nccih.nih.gov/health/osteoarthritis-in-depth
https://www.pom.go.id/siaran-pers/jangan-tertipu-klaim-alami-bpom-temukan-31-obat-bahan-alam-dan-suplemen-kesehatan-ilegal-mengandung-bko