BANREHI.com — Kemenyan telah digunakan selama berabad-abad sebagai bahan wewangian, perlengkapan ritual, dan pengobatan tradisional. Namun, di balik kesamaan aroma serta bentuk resinnya, tanaman yang dikenal sebagai kemenyan ternyata tidak selalu berasal dari spesies yang sama. Perbedaan asal botani tersebut menjadi perhatian penting dalam penelitian ilmiah, terutama untuk memastikan identitas bahan baku, kandungan kimia, dan pengembangan produk herbal.

Penelitian yang dipublikasikan dalam China Journal of Chinese Materia Medica pada Januari 2011 mengidentifikasi sedikitnya tiga spesies tanaman penghasil frankincense yang digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Ketiganya adalah Boswellia sacra, Boswellia papyrifera, dan Boswellia serrata. Temuan ini memberikan landasan ilmiah bagi identifikasi bahan herbal yang selama ini dikenal dengan nama dagang yang sama.

Frankinsence dari getah pohon Boswellia.

Penelitian berjudul Herbalism, Botany and Components Analysis Study on Original Plants of Frankincense tersebut dilakukan oleh Lei Sun, Jimin Xu, Hongyu Jin, Jingai Tian, dan Ruichao Lin. Para peneliti menggabungkan kajian literatur pengobatan herbal, klasifikasi botani, komposisi kimia, dan farmakologi dengan analisis komponen resin. Penelitian ini berfokus pada identitas dan karakterisasi bahan tanaman, bukan pada pembuktian efektivitas pengobatan terhadap pasien.

Analisis Kimia Mengungkap Asal Tanaman
Para peneliti menggunakan dua metode analisis untuk memeriksa komponen penting pada frankincense. Metode kromatografi gas (gas chromatography atau GC) digunakan untuk menganalisis minyak atsiri, sedangkan kromatografi cair kinerja tinggi (high-performance liquid chromatography atau HPLC) digunakan untuk menganalisis asam boswelat (boswellic acids).

Asam boswelat merupakan kelompok senyawa yang menjadi perhatian dalam penelitian farmakologi tanaman Boswellia. Namun, keberadaan suatu senyawa dalam resin tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa produk tersebut efektif untuk mengobati penyakit. Pembuktian manfaat terapeutik masih memerlukan penelitian yang sesuai, termasuk uji klinis pada manusia apabila suatu produk dikembangkan sebagai pengobatan.

Kesimpulan penting penelitian Sun dan koleganya adalah bahwa bahan baku frankincense dalam pengobatan tradisional Tiongkok setidaknya mencakup tiga spesies Boswellia tersebut. Hasil ini memperlihatkan pentingnya penelusuran asal tanaman sebelum bahan herbal diolah, diperjualbelikan, atau diteliti lebih lanjut. Perbedaan spesies harus diperhatikan ketika hasil penelitian kimia digunakan sebagai dasar pengembangan standar mutu.

Kemenyan Indonesia Ternyata Berbeda
Temuan dari Tiongkok tersebut relevan bagi Indonesia, terutama karena istilah kemenyan dalam perdagangan nasional memiliki pengertian botani yang berbeda. Kemenyan Sumatra yang dikenal sebagai benzoin umumnya berasal dari kelompok tanaman Styrax, bukan dari genus Boswellia yang menjadi objek penelitian Sun dan koleganya. Perbedaan ini penting agar kesamaan nama tidak menyebabkan kekeliruan dalam penggunaan hasil penelitian ilmiah.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menjelaskan bahwa benzoin Indonesia antara lain berasal dari Styrax benzoin dan Styrax paralleloneurum. Sementara itu, istilah frankincense secara internasional lebih lazim digunakan untuk resin tanaman Boswellia dari wilayah Arab dan Afrika. FAO juga mencatat bahwa penggunaan istilah frankincense untuk benzoin dalam perdagangan Indonesia dapat menimbulkan kerancuan.

Perbedaan tersebut tidak sekadar menyangkut penamaan. Resin Boswellia dikenal dalam kajian asam boswelat dan minyak atsiri, sedangkan kemenyan Sumatra memiliki karakteristik senyawa aromatik tersendiri, termasuk asam sinamat dan turunannya. Dengan demikian, hasil analisis atau penelitian farmakologi terhadap Boswellia tidak dapat langsung dianggap berlaku bagi Styrax tanpa penelitian yang menguji bahan Indonesia secara khusus.

Penelitian Indonesia Membuka Peluang Hilirisasi
Kajian yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry pada 2023 menunjukkan bahwa resin benzoin Sumatra memiliki profil metabolit sekunder yang dapat dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian tersebut mengidentifikasi berbagai komponen kimia, termasuk senyawa yang berkaitan dengan karakteristik aroma resin. Temuan itu memberikan dasar penting untuk pengembangan karakterisasi dan pengendalian mutu bahan baku kemenyan Indonesia.

Perhatian terhadap potensi kemenyan juga datang dari peneliti dalam negeri. Sebuah tinjauan literatur yang diterbitkan dalam jurnal Agrointek pada 2025 membahas kandungan kimia Styrax benzoin asal Sumatra Utara beserta prospek pengembangannya. Kajian tersebut menyoroti peluang pengolahan getah menjadi produk ekstrak untuk meningkatkan nilai tambah dibandingkan perdagangan bahan mentah.

Pengembangan tersebut dapat diarahkan ke industri parfum, kosmetik, bahan aromatik, dan produk herbal sesuai karakteristik serta persyaratan masing-masing produk. Akan tetapi, potensi aplikasi komersial perlu dibedakan dari klaim khasiat kesehatan. Identifikasi komponen kimia dan aktivitas biologis pada penelitian laboratorium belum cukup untuk menyatakan suatu ekstrak aman dan efektif digunakan sebagai obat bagi manusia.

Dari Kekayaan Hayati Menuju Standardisasi Herbal
Riset tentang asal botani frankincense memberikan pelajaran penting bagi pengembangan industri rempah dan herbal Indonesia. Identifikasi spesies yang akurat perlu menjadi tahap awal sebelum kegiatan ekstraksi, pengujian kandungan aktif, pengembangan produk, dan standardisasi kualitas dilakukan. Tanpa kepastian identitas tanaman, perbandingan hasil penelitian maupun konsistensi mutu bahan baku akan sulit dijamin.

Indonesia memiliki modal berupa sumber daya tanaman penghasil resin, pengetahuan tradisional, dan pengalaman panjang masyarakat dalam pengelolaan kemenyan. Namun, kekayaan tersebut perlu didukung penelitian yang menghubungkan identitas botani dengan profil kimia, keamanan, kegunaan, serta peluang industri. Penguatan riset juga penting agar nilai ekonomi tidak berhenti pada perdagangan getah, melainkan berkembang melalui pengolahan dan inovasi berbasis bukti ilmiah.

Penelitian Sun dan koleganya memperlihatkan bahwa langkah penting dalam pengembangan herbal dimulai dari pertanyaan mendasar: tanaman apa sebenarnya yang digunakan dan senyawa apa yang dikandungnya? Bagi Indonesia, pertanyaan yang sama perlu terus dijawab untuk kemenyan Sumatra maupun berbagai komoditas rempah dan herbal lainnya. Sebab, pengembangan industri berbasis kekayaan hayati membutuhkan lebih dari sekadar keberagaman tanaman, yakni kemampuan mengenali, meneliti, dan mengolahnya secara tepat.(*)

Sumber:
https://doi.org/10.4268/cjcmm20110205
https://doi.org/10.21107/agrointek.v19i3.27527
https://www.fao.org/4/ac776e/ac776e08.htm
https://standar-otskk.pom.go.id/otskk-db/kategori/pusaka-oba