BANREHI.com — JAKARTA. Jamu yang selama ini identik dengan penjual keliling, pasar tradisional, dan ramuan keluarga mulai memperoleh tempat baru di tengah gaya hidup masyarakat perkotaan. Minuman berbahan rempah dan tanaman herbal tersebut kini hadir di sejumlah kafe dengan teknik penyajian modern, menawarkan pengalaman yang menyerupai budaya menikmati kopi. Perubahan ini membuka peluang baru bagi pengembangan jamu, sekaligus menghadirkan tantangan menjaga warisan tradisional di tengah tuntutan industri.

Produk jamu kekinian. Sumber foto: Kumparan.com

Fenomena tersebut kembali mendapat perhatian melalui laporan Liputan6 pada 21 Oktober 2026 yang membahas perkembangan jamu modern di kafe-kafe kekinian. Kunyit, jahe, kencur, serai, dan asam jawa tetap menjadi bahan utama, tetapi teknik pengolahan dan cara penyajiannya mulai disesuaikan dengan selera konsumen masa kini. Jamu tidak lagi hanya dipasarkan sebagai minuman yang dikonsumsi ketika tubuh merasa kurang sehat, melainkan juga sebagai bagian dari pilihan minuman sehari-hari.

Perkembangan tersebut sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Harian The Jakarta Post pada November 2019 telah melaporkan kemunculan kafe jamu yang menggunakan konsep kedai kopi, termasuk Acaraki di Jakarta. Artinya, tren jamu modern merupakan proses perubahan yang telah berlangsung selama beberapa tahun dan kini semakin memperoleh perhatian sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

Ketika Jamu Bertemu Budaya Kedai Kopi
Salah satu pendekatan yang menarik adalah penggunaan perangkat penyeduh kopi untuk meracik jamu. Acaraki, misalnya, telah memperkenalkan penggunaan French press, alat seduh V60, dan mesin espresso dalam proses penyajian minuman herbal. Teknik ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan jamu tradisional yang umumnya direbus, ditumbuk, atau diperas sebelum diminum.

Perubahan tersebut bukan hanya menyangkut peralatan, melainkan juga cara membangun nilai suatu produk. Konsumen diperkenalkan pada karakter rasa, aroma rempah, metode pengolahan, hingga cerita mengenai bahan yang digunakan. Dengan pendekatan ini, jamu memperoleh ruang untuk dipasarkan sebagai produk kuliner dan gaya hidup yang memiliki identitas budaya.

Namun, modernisasi penyajian tidak otomatis menghasilkan minuman yang lebih berkhasiat. Metode penyeduhan dapat memengaruhi komponen yang terekstraksi dari suatu tanaman, tetapi pengaruhnya terhadap kandungan senyawa aktif dan manfaat kesehatan harus dibuktikan melalui pengujian yang sesuai. Karena itu, inovasi kuliner perlu dibedakan dari inovasi farmakologi.

Warisan UNESCO Memperkuat Identitas Jamu Indonesia
Perkembangan jamu modern berlangsung setelah Indonesia memperoleh pengakuan internasional atas budaya jamunya. Pada Desember 2023, UNESCO memasukkan Jamu Wellness Culture ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan tersebut menegaskan nilai budaya dari pengetahuan, keterampilan, dan praktik pembuatan jamu yang diwariskan lintas generasi.

UNESCO menjelaskan bahwa tradisi jamu telah dikenal di Indonesia sejak sekitar abad kedelapan. Pengetahuan mengenai bahan, cara meracik, dan penggunaannya diwariskan melalui keluarga, lingkungan masyarakat, serta para peracik tradisional. Perempuan memiliki peran penting dalam mempertahankan praktik tersebut, termasuk melalui kegiatan produksi dan perdagangan jamu.

Pengakuan UNESCO memberikan landasan budaya yang kuat bagi pengembangan jamu sebagai identitas nasional. Namun, status warisan budaya bukan sertifikasi efektivitas klinis suatu ramuan. Nilai historis dan pengetahuan tradisional harus tetap dibedakan dari klaim kesehatan yang memerlukan pembuktian ilmiah.

Dalam konteks industri, pengakuan internasional tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan wisata kuliner, pendidikan rempah, pengalaman meracik jamu, dan berbagai produk ekonomi kreatif. Peluang ini sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai posisi peracik tradisional, petani tanaman obat, serta pelaku usaha kecil ketika jamu semakin berkembang menjadi produk komersial modern.

Dari Jamu Gendong Menuju Industri Bernilai Tambah
Di balik kemasan menarik dan penyajian modern, terdapat rantai produksi yang dimulai dari petani penghasil bahan baku. Kunyit, jahe, kencur, temulawak, dan berbagai tanaman obat lainnya memerlukan proses budidaya, penanganan pascapanen, pengolahan, serta distribusi sebelum sampai kepada konsumen. Karena itu, pengembangan jamu tidak dapat hanya dilihat dari pertumbuhan bisnis minuman di perkotaan.

Dalam perspektif ekonomi, inovasi jamu modern membuka kemungkinan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan, diferensiasi produk, pengemasan, dan pengalaman konsumen. Produk yang sebelumnya dijual sebagai minuman tradisional dapat memperoleh posisi pasar berbeda ketika dipadukan dengan layanan dan identitas merek. Namun, besarnya peningkatan nilai ekonomi tersebut belum dapat dipastikan tanpa data harga, biaya produksi, margin usaha, dan distribusi manfaat di sepanjang rantai pasok.

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa perkembangan bisnis turut memberikan manfaat kepada produsen bahan baku dan penjaga pengetahuan tradisional. Jika nilai tambah terutama terkumpul pada pemilik merek dan jaringan penjualan, modernisasi jamu berisiko tidak menghasilkan perubahan berarti bagi kesejahteraan petani maupun peracik kecil. Keterhubungan antara industri hilir dengan produsen di tingkat hulu menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem jamu yang berkelanjutan.(*)