BANREHI.com — JAKARTA. Kayu manis, jahe, dan sejumlah rempah yang biasa ditemukan di dapur ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar penyedap makanan. Sebuah kajian terhadap 142 penelitian klinis menemukan indikasi bahwa beberapa rempah dapat membantu memperbaiki indikator kesehatan metabolik, terutama pengendalian gula darah. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hasil tersebut belum cukup untuk menjadikan rempah sebagai pengganti pengobatan diabetes.
Temuan ini kembali mendapat perhatian setelah Nutritional Outlook menerbitkan laporan pada 28 Oktober 2026 mengenai hubungan konsumsi rempah dan kesehatan metabolik. Laporan tersebut merujuk penelitian ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients pada 2023 oleh Mackonochie dan koleganya. Para peneliti menyaring 1.738 publikasi dan mengidentifikasi 142 studi yang relevan untuk menilai manfaat rempah dalam jumlah yang lazim digunakan sebagai bahan makanan.
Tiga Rempah Paling Menjanjikan
Dari berbagai tanaman yang diteliti, kayu manis menjadi objek penelitian terbanyak dengan 41 studi, disusul jahe sebanyak 24 studi dan fenugreek atau kelabat sebanyak 20 studi. Ketiganya menunjukkan indikasi manfaat terhadap pengendalian glukosa darah, meskipun hasil antarpenelitian belum sepenuhnya konsisten. Kajian tersebut juga menemukan potensi jahe, kunyit, dan kayu manis dalam memperbaiki profil lemak darah, serta kapulaga dalam memengaruhi penanda peradangan.
Sebagian besar penelitian menggunakan rempah kering dalam kisaran 1–6 gram, walaupun terdapat variasi dosis dan pengecualian untuk tanaman tertentu. Penelitian yang dihimpun merupakan studi pada manusia, bukan sekadar percobaan laboratorium atau hewan. Akan tetapi, banyaknya studi tidak otomatis menunjukkan bahwa manfaatnya sudah terbukti kuat, sebab kualitas metode dan konsistensi hasil tetap menentukan kepastian ilmiah.
Penelitian Baru Memperkuat Perhatian pada Kunyit
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Food Science & Nutrition pada April 2026 turut memperlihatkan potensi kunyit untuk pengendalian gula darah. Meta-analisis terhadap 34 uji klinis acak menemukan bahwa suplementasi kunyit atau kurkumin berkaitan dengan penurunan rata-rata gula darah puasa sekitar 10,15 mg/dL dibandingkan kelompok kontrol. Kadar HbA1c, indikator rata-rata gula darah jangka panjang, juga menunjukkan penurunan sekitar 0,32 poin persentase.
Meski demikian, peneliti menemukan perbedaan besar antarpopulasi, dosis, dan formulasi yang digunakan. Hasil tersebut berasal dari pengujian suplemen atau ekstrak tertentu, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan manfaat mengonsumsi kunyit dalam masakan atau minuman jamu biasa. Penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan manfaat klinis jangka panjang dan keamanannya.
Indonesia Punya Rempah, tetapi Diabetes Tetap Menjadi Tantangan
Temuan ini relevan bagi Indonesia yang memiliki tradisi penggunaan jahe, kunyit, kayu manis, dan kapulaga dalam kuliner maupun jamu. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah, sementara angka berdasarkan diagnosis dokter hanya 2,2 persen. Kesenjangan tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini, pendidikan gizi, dan pengendalian faktor risiko penyakit metabolik.
Kekayaan rempah Indonesia membuka peluang pengembangan pangan fungsional dan penelitian herbal berbasis bukti ilmiah. Namun, manfaat kesehatan harus diuji berdasarkan spesies tanaman, komposisi kimia, dosis, dan bentuk pengolahannya, bukan hanya berdasarkan penggunaan tradisional. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) Amerika Serikat juga mengingatkan bahwa bukti penggunaan suplemen herbal untuk diabetes masih terbatas dan sebagian produk berpotensi berinteraksi dengan obat.
Bagi industri herbal nasional, penelitian tersebut memberikan arah pengembangan produk yang lebih terukur. Rempah dapat menjadi bahan inovasi pangan, tetapi klaim penurunan gula darah harus didukung penelitian klinis yang relevan dengan produk bersangkutan. Potensi ekonomi dan kesehatan rempah Indonesia pada akhirnya bergantung pada kemampuan mengubah pengetahuan tradisional menjadi produk yang aman, terstandardisasi, dan terbukti manfaatnya.(*)