ilustrasi terapi tiroid. hak cipta milik ginger.healthcare

BANREHI.com — JAKARTA. Penggunaan tanaman obat untuk mendukung penanganan gangguan kelenjar tiroid menjadi perhatian dalam kajian farmasi dan pengobatan tradisional. Potensi tersebut diangkat dalam artikel ilmiah berjudul A Comprehensive Review on Thyroid Management and Therapeutic Potential of Medicinal Plants, yang tercatat dalam International Journal of Community Pharmacy.

Kajian tersebut mengangkat isu penting mengenai kemungkinan pemanfaatan tanaman obat dalam pengelolaan gangguan tiroid. Namun, teks lengkap dan abstrak penelitian belum berhasil diakses untuk memastikan spesies yang dibahas, metode penelusuran literatur, maupun kesimpulan penulis. Karena itu, potensi terapeutik tanaman obat perlu ditelaah melalui penelitian pendukung yang dapat diverifikasi secara independen.

Gangguan Tiroid dan Peluang Penelitian Herbal
Kelenjar tiroid berperan menghasilkan hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3), yang membantu mengatur metabolisme, suhu tubuh, pertumbuhan, dan penggunaan energi. Gangguan fungsinya dapat menyebabkan hipotiroidisme, ketika produksi hormon tidak mencukupi, atau hipertiroidisme, ketika aktivitas hormon berlebihan.

Kedua kondisi tersebut memerlukan pendekatan pengobatan berbeda. Hipotiroidisme sering ditangani dengan terapi penggantian hormon, sedangkan hipertiroidisme dapat membutuhkan obat antitiroid atau tindakan medis lainnya. Oleh sebab itu, tanaman yang memengaruhi aktivitas hormon tidak otomatis bermanfaat bagi seluruh penderita gangguan tiroid.

Dalam penelitian herbal, perhatian ilmuwan umumnya diarahkan pada senyawa yang berpotensi memengaruhi peradangan, stres oksidatif, serta aktivitas hormonal. Namun, hasil percobaan laboratorium maupun hewan belum dapat digunakan sebagai bukti bahwa suatu tanaman efektif mengobati penyakit tiroid pada manusia.

Ashwagandha Menunjukkan Hasil Klinis Awal
Salah satu tanaman yang telah diteliti pada manusia adalah ashwagandha (Withania somnifera), tanaman yang dikenal dalam tradisi Ayurveda.

Penelitian Sharma dan koleganya, yang diterbitkan dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine pada 2018, melibatkan 50 peserta dengan hipotiroidisme subklinis. Dalam uji klinis acak tersamar ganda selama delapan minggu, peneliti membandingkan ekstrak akar ashwagandha dengan plasebo.

Hasilnya menunjukkan perbaikan sejumlah indikator fungsi tiroid, termasuk kadar TSH, T3, dan T4, pada kelompok penerima ekstrak dibandingkan plasebo. Namun, penelitian tersebut berskala kecil, berlangsung singkat, dan secara khusus meneliti hipotiroidisme subklinis. Temuannya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh gangguan tiroid.

National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat justru mengingatkan bahwa ashwagandha berpotensi memengaruhi hormon tiroid dan berinteraksi dengan obat penggantian hormon. Penggunaannya juga tidak direkomendasikan bagi penderita gangguan tiroid atau penyakit autoimun tanpa pertimbangan medis.

Indonesia Menghadapi Persoalan Kekurangan dan Kelebihan Yodium
Bagi Indonesia, penelitian tanaman obat untuk tiroid memiliki relevansi dengan persoalan kesehatan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan yodium.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa yodium merupakan unsur penting dalam pembentukan hormon tiroid. Kekurangan asupannya dapat mengganggu fungsi kelenjar, sementara asupan berlebihan juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan tertentu.

Penelitian di Kabupaten Demak dan Grobogan, Jawa Tengah, bahkan menemukan hubungan antara paparan yodium berlebihan dari air tanah dan peningkatan risiko gangguan fungsi tiroid pada anak usia sekolah. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan tiroid di Indonesia tidak selalu berhubungan dengan kekurangan yodium, tetapi juga dapat melibatkan paparan berlebihan.

Kondisi ini menjadi alasan penting untuk tidak mempromosikan tanaman atau suplemen berkandungan yodium sebagai solusi universal bagi penderita gangguan tiroid.

Peluang bagi Industri Herbal Indonesia
Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang membuka peluang penelitian dalam bidang farmakologi, termasuk kajian terhadap mekanisme peradangan dan metabolisme. Namun, keberadaan senyawa bioaktif pada tanaman tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi klaim terapeutik untuk penyakit tiroid.

Pengembangan produk herbal memerlukan tahapan identifikasi botani, karakterisasi senyawa, pengujian keamanan, evaluasi praklinis, dan penelitian klinis yang sesuai. Standardisasi bahan baku menjadi penting karena perbedaan spesies, cara ekstraksi, dan konsentrasi senyawa dapat menghasilkan respons biologis yang berbeda.

Dalam konteks Indonesia, penelitian herbal juga perlu mempertimbangkan karakteristik pasien, pola konsumsi yodium, penyakit penyerta, dan penggunaan obat hormonal. Kolaborasi antara lembaga penelitian, fasilitas kesehatan, dan industri herbal diperlukan agar pengembangan produk mengikuti standar pembuktian ilmiah.

Kajian mengenai potensi tanaman obat untuk gangguan tiroid pada akhirnya membuka agenda penelitian yang relevan bagi Indonesia. Akan tetapi, arah pengembangannya harus bertumpu pada pembuktian manfaat dan keamanan, bukan semata penggunaan empiris. Tanaman obat berpotensi menjadi objek inovasi farmasi, tetapi belum dapat diposisikan sebagai pengganti terapi medis yang telah terbukti efektif.(*)

SUMBER:
1. International Journal of Community Pharmacy (2026). A Comprehensive Review on Thyroid Management and Therapeutic Potential of Medicinal Plants.
2. Sharma, A.K., Basu, I., & Singh, S. (2018). Efficacy and Safety of Ashwagandha Root Extract in Subclinical Hypothyroid Patients: A Double-Blind, Randomized Placebo-Controlled Trial. Journal of Alternative and Complementary Medicine, 24(3), 243–248.
3. NIH Office of Dietary Supplements. [Ashwagandha — Health Professional Fact Sheet]
4. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/861/bagaimana-penggunaan-garam-beryodium-yang-baik
5. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023