BANREHI.com — HARARE. Zimbabwe mengambil langkah untuk menyelamatkan pengetahuan tanaman obat tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui program yang digerakkan Ibu Negara Auxillia Mnangagwa, pemerintah dan masyarakat setempat berupaya mendokumentasikan tanaman berkhasiat, cara pengolahannya, serta pengetahuan pengobatan yang selama ini tersimpan dalam tradisi lisan. Inisiatif tersebut menjadi perhatian karena banyak pengetahuan herbal berisiko menghilang ketika generasi pewarisnya tidak lagi meneruskan praktik tersebut.

Program Traditional Medicinal Herbs Programme diperkenalkan kepada masyarakat Provinsi Manicaland melalui kegiatan di Odzi Business Centre pada 28 Oktober 2026. Menurut laporan The Herald yang terbit sehari kemudian, kegiatan tersebut menghadirkan masyarakat, praktisi pengobatan tradisional, dan kelompok yang memamerkan berbagai produk berbahan tanaman lokal. Program itu sebelumnya dimulai di Provinsi Mashonaland Central dan direncanakan menjangkau seluruh 10 provinsi Zimbabwe.

Pengetahuan Herbal Akan Dibukukan
Salah satu perhatian utama program tersebut adalah pendokumentasian tanaman obat beserta pengetahuan masyarakat mengenai penggunaannya. Auxillia Mnangagwa mendorong penyusunan buku yang menghimpun tanaman obat, pangan lokal, serta praktik pemanfaatannya dari berbagai komunitas. Upaya ini diarahkan untuk menjaga agar pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan tidak hilang akibat perubahan sosial dan pergantian generasi.

Dalam kegiatan di Manicaland, sejumlah warga menceritakan penggunaan tanaman lokal untuk keluhan pencernaan, perawatan kulit, dan kebutuhan kesehatan keluarga. Mereka juga memperkenalkan cara pengolahan tradisional, termasuk penggunaan akar, daun, kulit batang, serta bunga tanaman. Namun, kesaksian masyarakat tersebut merupakan catatan penggunaan empiris dan belum dapat dianggap sebagai bukti klinis mengenai keamanan atau efektivitas pengobatan.

Program tersebut juga menghubungkan pelestarian pengetahuan herbal dengan perlindungan lingkungan. Mnangagwa mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penebangan pohon dan perusakan hutan secara sembarangan, mengingat tumbuhan lokal dapat menyimpan sumber daya hayati yang belum sepenuhnya dipelajari. Perspektif ini memperlihatkan hubungan antara keberlangsungan pengobatan tradisional dan konservasi keanekaragaman hayati.

Indonesia Sudah Punya Pengakuan Dunia
Langkah Zimbabwe memiliki relevansi dengan Indonesia yang juga memiliki tradisi pengobatan berbasis tanaman. Pada Desember 2023, UNESCO menetapkan budaya sehat jamu atau Jamu Wellness Culture sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan tersebut mencakup pengetahuan, keterampilan, dan praktik pembuatan jamu yang diwariskan melalui keluarga maupun komunitas.

Indonesia juga telah memiliki Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu. Regulasi ini memberikan landasan bagi pengembangan jamu secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk pelestarian sumber daya alam, penguatan ekonomi masyarakat, serta peningkatan daya saing. Dengan demikian, Indonesia mempunyai kerangka kebijakan nasional yang lebih luas daripada sekadar kegiatan dokumentasi tanaman obat.

Meskipun demikian, keberadaan regulasi dan pengakuan UNESCO belum dengan sendirinya menjamin terlindunginya seluruh pengetahuan pengobatan lokal. Indonesia memiliki beragam tradisi ramuan yang hidup di komunitas adat dan daerah, dengan nama tanaman, cara pengolahan, serta kegunaan yang berbeda. Pendokumentasian yang melibatkan pemilik pengetahuan menjadi penting agar warisan tersebut tidak terputus atau dimanfaatkan secara komersial tanpa penghormatan terhadap hak masyarakat asalnya.

WHO Dorong Pengobatan Tradisional Berbasis Bukti
Upaya Zimbabwe dan Indonesia sejalan dengan agenda Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034. Strategi tersebut menekankan pentingnya penelitian ilmiah, keamanan produk, pengaturan mutu, serta penghormatan terhadap pengetahuan masyarakat adat. WHO juga mendorong pengembangan pengobatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan melalui bukti ilmiah.

Dalam laporan September 2026, WHO mengungkapkan bahwa pengobatan tradisional digunakan oleh miliaran orang di dunia, tetapi bidang ini menerima kurang dari satu persen pendanaan penelitian kesehatan global. Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa popularitas suatu praktik pengobatan tidak selalu diikuti pembuktian ilmiah yang memadai. Karena itu, dokumentasi pengetahuan tradisional perlu menjadi pintu masuk penelitian, bukan dasar untuk langsung mengklaim manfaat terapeutik suatu tanaman.

Tantangan Indonesia: Melindungi Pengetahuan dan Pemiliknya
Bagi Indonesia, pelajaran penting dari Zimbabwe terletak pada keterlibatan masyarakat sebagai pemilik sekaligus penjaga pengetahuan herbal. Program dokumentasi idealnya tidak hanya mencatat nama tanaman dan penggunaannya, tetapi juga memastikan identitas botani, habitat, keamanan, serta asal-usul pengetahuan tersebut. Persetujuan masyarakat dan pembagian manfaat yang adil juga perlu diperhatikan apabila dokumentasi berkembang menjadi kegiatan penelitian atau komersialisasi.

Pengembangan industri herbal membutuhkan keseimbangan antara pelestarian budaya, pembuktian ilmiah, dan perlindungan sumber daya hayati. Kekayaan tanaman obat Indonesia merupakan modal penting, tetapi nilainya dapat berkurang apabila pengetahuan lokal hilang atau bahan baku alam dieksploitasi tanpa pengelolaan yang berkelanjutan. Pelajaran dari Zimbabwe memperlihatkan bahwa masa depan pengobatan tradisional tidak hanya ditentukan oleh produk yang dihasilkan, melainkan juga oleh kemampuan suatu bangsa menjaga pengetahuan yang melahirkannya.(*)

SUMBER DAN REFERENSI:
1. The Herald, 29 Oktober 2026.(https://www.heraldonline.co.zw/first-lady-takes-traditional-medicinal-herbs-programme-to-manicaland-draws-a-sea-of-people
2. Angel of Hope Foundation, 2026. (https://angelofhopezim.org/first-lady-takes-traditional-medicinal-herbs-programme-to-manicaland
3. UNESCO, 2023. (https://ich.unesco.org/en/RL/jamu-wellness-culture-01972
4. Pemerintah RI, 2023.(https://peraturan.bpk.go.id/Details/263641/perpres-no-54-tahun-2023
5. WHO, 2025. {https://www.who.int/westernpacific/publications/i/item/9789240113176
6. WHO, 17 September 2026. (https://www.who.int/philippines/news/detail-global/17-09-2026-who-calls-for-more-research-into-traditional-medicine-to-meet-growing-health-needs